Selasa, 25 Maret 2008

Suzzannaku Sayang 1


Banyak teman yang heran, mengapa Agip yang terkesan serius sampai tega menempatkan Suzzanna Si Ratu Horror masuk jajaran idolanya.Huh, menempatkan sosok unik itu bukan tanpa alasan.Aktris watak(kalau boleh aku menyebutnya demikian)yang bernama asli Susanna Martha Frederika van Ooscth ini tidak hanya dikenal sebagai kampiun pelakon tokoh absurd dari alam lain, tetapi juga sebagai bom seks perfilman nasional era 70an. Sori, detilnya film apa saja mohon cari sendiri ya...hehehe

Awal aku mampu menggunakan pikiranku menanggapi akting Suzzanna, Aku menangkap bahwa secara gestur,ia terkesan dingin, tatapan kosong,ucapan yang nampaknya persis skrip skenario, polos, seperti aktris yang baru belajar akting.Itu saat awal, dimana film Suzzanna yang menjadi santapanku masih 'pemula', semisal Ratu Pantai Selatan, Ampun deh...ia seperti menjadi manekin cantik misterius yang didandani sedemikian rupa, dengan porsi dialog dan eksplorasi akting yang minim. Tetapi setelah film-film nya mulai merajai blocking acara siang satsiun televisi swasta tanah air, baru ketahuan deh, gimana usaha bintang ini mewujudkan nuansa mistis dengan sensualitas dan keencerannya menyesuaikan diri dengan karakter.

Coba perhatikan aktingnya dalam film Sundel Bolong. Akting dinginnya bukan karena kebegoannya berlakon. Sebaliknya, tokoh Sundel Bolong terkesan lebih hidup(ada kata lain yang lebih tepat?)dengan kepelitannya berkata-kata, berakting secara gerak. Kesan keminiman yang menancap di bagian otak logisku mendadak disadarkan perasaanku, "Gip, justru itulah akting yang berhasil!"

Bandingkan pula ketika ia memainkan peran dalam Siluman Buaya Putih. Ia dibebani porsi bertutur lebih banyak. Luar biasa! Keren, akting "serba mendadak berubah, dingin, antiklimaks" mendadak berganti menjadi akting yang lebih membumi(walau Suzzanna berperan sebagai makhluk gaib juga) Nyi Blorong berbeda dengan bangsa lelembut lain. Secara fisik, ia adalah seorang putri Ratu Kidul yang cantik, namun berambut ular. Yah, masih lumayan manusiawi dibandingkan dengan Sundel Bolong, Kartika,dan Kuntilanak. Atau, bandingkan dengan Suzzanna sebagai seorang ibu sempurna dalam Malam Satu Suro. Dapet banget. Apalagi kalau pikiran kita belum teracuni oleh bayangan Suzzanna sebagai sosok hantu. Kontrasnya lagi, simak kebinalan Suzzanna sebagai pelacur, Tukang Jamu genit, Gadis pemalu penuh rasa ingin tahu termasuk soal seks, Delilah yang setia. Sungguh beruntung mereka yang pernah menonton film panas Suzzanna. Walau untuk hal-hal yang vulgar diperankan pemain pengganti, kecerdasan akting Suzzanna dapat aku rasakan melalui kata-katanya yang sangat khas mendekat sosio-kultural tokoh (ingat, ini bukan hanya sepicik masalah logat), bahasa tubuh yang menunjukkan penyatuan diri Suzzanna dengan sang peran, semua tampil manis diramu dengan modal anugerah yang Suzzanna dapat: Tubuh bahenol. padat, berisi, putih mulus, agak kebule-bulean.

Parahnya, kegilaanku pada Suzzanna makin miring sejak aku tahu bahwa kebiasaan hidup eyang ini yang unik, aneh bagi sebagian orang. Kebanyakan memang terkesan horror. Ambil contoh, menyantap bunga Melati agar awet muda(coba deh lihat wajah mulus kencangnya, karena bunga Melati?), Menyiapkan peti mati dan liang lahat, dan aksesoris kematian baginya jauh hari(untuk liang lahat biasa, tapi aksesori kematian? Sebegitu siapkah ia menghadapinya?,Meditasi dan Yoga(Biasa sih),Berdandan a la ratu tanah Jawa (semua pasti sudah tahu)

Hal paling ajaib yang aku tahu dari dirinya adalah kembali menstruasinya Suzzanna di usia kepala 6nya. Apa-apaan coba??

Tidak aku pungkiri, kegemaranku pada hal-hal unik menjadi jadi, Terutama setelah aku hijrah dari kampung menuju Surakarta yang arus informasi dan konfigurasi informasinya melimpah.

Bukan cuma Suzzanna, melainkan juga musik, pakaian, kebiasaan, dan tentu cara bertindak. Memang itu yang selama ini membuka jarak antara aku dan tradisi manusia pada generalnya. Selama aku menikmatinya, mengapa tidak? Itulah egoku. Apa kabar keinginan 'bermasyarakat'?? Aku tidak mau menjawabnya sekarang, sebab aku sedang bertindak dengan asa yang membara.Domplengan asa ini makin menyulitkanku masuk ranah itu, namun sekaligus ia menjadi candu yang akut kunikmati bersama perasaan bersalah dan kebencian pada diriku sendiri. Sangat terlalu nikmat untuk aku redam, ah, aku belum bisa menarik suatu solusi. Solusi yang nggak sekadar muncul dari kesoktahuan, kemunafikan, pemaafan diri, atau area kritis otak yang belum terbukti, Namun banyak solusi yang benar-benar solutif. Sambil jalan lah. Aku juga bertindak kok. Semoga ku dapatkan. Salah satu titik terangnya, ya yang aku tulis di blog ini beberapa wakyu silam.

Suzzanna, tokoh idola yang terkuak dari pikiran yang senantiasa mencari kepuasan.

1 komentar:

richiereez mengatakan...

saya cuma bisa bilang

banyak istigfar

efek black magic